Home
Akademik
Prestasi
Organisasi
About
opangs08's blog
mencari dan memberi yang terbaik
IPB
Nama : Opang Sunandang Nrp : I34080089 Hari/Tanggal : Rabu/23 Desember 2009 MK (Kode) : Ilmu Penyuluhan (KPM 211) Pertanyaan : Sudah menolong pertanian Berkelanjutan kah..???? ESSAY Pertanian Organik Pada cuplikan “Menapak Desa” di Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Jawa Barat merupakan pertanian yang sudah menolong pertanian berkelanjutan, karena mereka telah melakukan perubahan dan mencoba menggunakan terobosan-terobosan baru yang dilakukan oleh masyarakat sekitar desa tersebut. Terobosannya yaitu mereka membuat makanan organik yang tidak mengandung pupuk dan pestisida, seperti beras, pepaya, dan jenis makanan yang lainnya. Hal ini berkaitan dengan mereka yang sangat menyadari dampak dari pestisida, oleh karena itu mulai mencoba tanpa menggunakan bahan pestisida melainkan ditanam secara alami. Temasuk jerami yang dijadikan sebagai pupuk, dimana pengolahan ini sangat mudah. Mereka memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang ada, setidaknya dapat digunakan untuk menggantikan pestisida. Dengan melimpahnya sumber daya alam, mengantar mereka bahwa sudah saatnya petani menghilangkan zat kimia. Selain daripada itu juga, mereka telah mengetahui bahaya menggunakan pupuk pestisida kimia, dimana mengandung Residu yang dapat membahayakan pada manusia, sebab itu mereka merasa penggunaan secara organik lebih bagus dibandingkan menggunakan bahan kimia. Sehingga mereka mengajak untuk mengalihfungsikan dari bahan kimia ke bukan bahan kimia. Hal ini penting, karena merupakan tujuan utamanya yakni memberdayakn petani terlebih dahulu untuk bersama-sama dalam mengalihfungsikan hal tersebut. Mengembangkan perikanan dan peternakan hasil organik, terobosan yang harus dibanggakan. Semangat kerjasama yang ingin menjadi maju merupakan contoh dari desa ini. Salah satu bahan pertanian organik yaitu beras organik yang merupakan beras yang sehat. Adapun perbedaan antara beras organik dengan beras yang biasa, yaitu: 1. Kesehatan, tentunya kalau beras yang biasa memakai pupuk kimia pestisida yang didalamnya terdapat Residu yang sangat mengganggu kesehatan, berbeda dengan beras organik yang tidak menimbulkan bahaya apapun. 2. Rasa, kalau masalah rasa disesuaikan dengan konsumen dan dengan kondisi tanah, akan tetapi untuk beras organik lebih harum 3. Harga, terdapat perbedaan harga antara beras organik dengan beras yang biasa. Beras organik lebih mahal, yaitu sekitar Rp.4000/kg sedangkan untuk beras biasa harganya sekitar Rp.3000/kg 4. Perbedaan yang lainnya, kalau beras organik lebih tahan lama dan tidak cepat basi, sedangkan untuk beras biasa tentunya lebih cepat basi dan tidak tahan lama Kemudian dengan berjalannya program ini juga masyarakat Cigombong bekerjasama dengan pihak luar yaitu LPS (Lembaga Pertanian Sehat), dimana petani di fasilitasi oleh pihak luar dalam menyelenggarakan program tersebut. Metode penyuluhan yang utama yaitu dari petani ke petani, dimana semua warga desa tersebut ikut malakukan program itu dan bersama-sama untuk dikembangkan. Sehingga pada akhirnya beras organik tersebut menyebar kemana-mana. Pemasaran yang dilakukan pertama kali dilakukan yaitu ke dinas kabupaten dan ke dinas kecamatan, setelah itu ke swalayan lalu kemudian ke rumah sakit dengan alasan mereka tahu tentang kesehatan. Perilaku petaninya menggunakan metode-metode, mengaplikasikan prinsip-prinsip, memilih dari seperangkat pilihan, dimana petani mempelajarinya secara teknik lalu kemudian diaplikasikannya lewat praktik seperti merubah jerami menjadi pupuk sebagai pengganti pupuk kimia pestisida. Hasil yang ingin dicapai pihak luar mengutamakan pilihan-pilihan yang lebih luas/banyak bagi petani; petani ditingkatkan kemampuan adaptasinya Peranan Agen penyuluhan pertanian yaitu sebagai fasilitator dan pencari dan memberikan pilihan, dimana LPS (Lembaga Pertanian Sehat) hanya berfungsi sebagai fasilitator bagi tokoh masyarakat Cigombong.
June 19th, 2010 | Author:
opangs08
Posted in
Academic
|
No Comments »
STRATEGI INDUSTRIALISASI SEBAGAI SOLUSI PEMBANGUNAN DI INDONESIA Oleh : Opang Sunandang I34080089 PROGRAM SARJANA DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap negara pasti mempunyai strategi tertentu untuk membangun negaranya, baik di negara maju maupun di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Salah satu yang tepat digunakan untuk pembangunan di negara sedang berkembang khususnya Indonesia yaitu strategi industrialisasi. Industrialisasi adalah suatu keharusan karena menjamin kelangsungan proses pembangunan ekonomi jangka panjang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan yang menghasilkan peningkatan pendapatan per kapita setiap tahun. Hanya sebagian kecil negara dengan jumlah penduduknya yang sedikit dan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah dapat berharap mencapai tingkat pendapatan per kapita yang tinggi tanpa lewat proses industrialisasi. Sedangkan negara besar, seperti Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa dan memiliki perekonomiannya tidak bisa bertumpu hanya pada sektor pertanian dan sektor pertambangan saja. Walaupun industrialisasi penting, seperti yang dijelaskan di atas, namun perlu diakui bahwa industrialisasi itu sendiri bukan merupakan tujuan akhir, melainkan hanya merupakan salah satu strategi yang harus ditempuh untuk mendukung proses pembangunan ekonomi guna mencapai tingkat pendapatan per kapita yang tinggi. Meskipun pelaksanaannya sangat bervariasi antarnegara, periode industrialisasi merupakan tahapan logis dalam proses perubahan struktur ekonomi, yang merupakan konsekuensi dari proses pembangunan ekonomi jangka panjang. Tahapan ini diwujudkan secara historis melalui kenaikan kontribusi sektor industri manufaktur dalam permintaan konsumen, produksi, ekspor, dan kesempatan kerja. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarakan pemikiran diatas, kajian ini berupaya untuk mempelajari strategi industrialisasi sebagai solusi pembangunan di Indonesia. Secara khusus hal-hal yang akan dikaji : 1) Bagaimanakah perkembangan industri yang terjadi di Indonesia ? 2) Apakah masalah-masalah yang terjadi di Indonesia pada sektor industri ? 3) Apa saja strategi-strategi industrialisasi yang sudah terjadi di Indonesia ? 4) Apa strategi industrialisasi yang tepat digunakan terkait dengan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia ? 1.3. Tujuan Penulisan Berdasarkan perumusan masalah tersebut, dapat diketahui hal-hal yang dapat dikaji dengan tujuan : 1) Mengetahui perkembangan industri yang terjadi di Indonesia. 2) Mengetahui masalah-masalah yang terjadi di Indonesia pada sektor industri. 3) Mengetahui strategi-strategi industrialisasi yang sudah terjadi di Indonesia. 4) Mengetahui strategi industrialisasi yang tepat digunakan terkait dengan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. 1.4. Manfaat Penulisan Melalui kajian ini, terdapat juga beberapa hal yang ingin disumbangkan, yaitu : 1) Dapat menjadi referensi bagi kajian yang akan melakukan pengamatan sejenis. 2) Memberikan informasi dan pemahaman kepada pihak-pihak yang berkepentingan. 3) Menambah khasanah pengetahuan tentang strategi industrialisasi sebagai solusi pembangunan di Indonesia. BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Industrialisasi Industrialisasi adalah suatu keharusan karena menjamin kelangsungan proses pembangunan ekonomi jangka panjang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan yang menghasilkan peningkatan pendapatan per kapita setiap tahun. 2.2. Strategi Industrialisasi Dalam melaksanakan industrialisasi, ada dua pilihan strategi, yaitu strategi substitusi impor (SI) dan strategi promosi ekspor (PE). 1. Strategi SI Strategi substitusi impor (SI) adalah industri domestik yang membuat barang-barang menggantikan impor. Strategi SI lebih menekankan pada pengembangan industri yang berorientasi kepada pasar domestik. Strategi SI dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai dengan mengembangkan industri di dalam negeri yang memproduksikan barang-barang pengganti impor. Beberapa pertimbangan yang lazim digunakan dalam memilih strategi ini terutama adalah sebagai berikut : • Sumber daya alam dan faktor produksi cukup tersedia di dalam negeri sehingga secara teoritis, biaya produksi untuk intensitas penggunaan sumber-sumber ekonomi tersebut yang tinggi dapat menjadi rendah. • Potensi permintaan di dalam negeri yang memadai. • Untuk mendorong perkembangan sektor industri manufaktur di dalam negeri. • Dengan berkembangnya industri di dalam negeri, maka kesempatan kerja diharapkan terbuka lebih luas. • Dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, yang berarti juga mengurangi defisit saldo neraca perdagangan dan menghemat cadangan devisa. 2. Strategi PE Strategi promosi ekspor (PE) adalah strategi yang tidak ada diskriminasi dalam pemberian insentif dan fasilitas-fasilitas kemudahan yang lainnya dari pemerintah, baik utnuk industri yang berorientasi kepada pasar domestik maupun industri yang berorientasi ke pasar ekspor. Strategi PE lebih berorientasi ke pasar internasional dalam usaha pengembangan industri di dalam negeri. Strategi PE dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi hnaya bisa direalisasikan jika produk-produk yang dibuat di dalam negeri dijual di pasar ekspor. Beberapa syarat penting yang diberikan agar penerapan strategi tersebut membawa hasil yang baik adalah sebagai berikut : • Pasar harus menciptakan signal harga yang benar, yang sepenuhnya merefleksikan kelangkaan dari barang yang bersangkutan, baik di pasar output maupun di pasar input. • Tingkat proteksi dari impor harus rendah. • Nilai tukar mata uang harus realistik, sepenuhnya merefleksikan keterbatasan uang asing yang bersangkutan. • Lebih penting lagi, harus ada insentif. BAB III METODE PENULISAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Pada pembuatan makalah ini, data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dilapangan. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh melalui literatur-literatur serta catatan-catatan instansi yang trkait serta pihak-pihak lainnya yang dapat mendukung kelengkapan informasi yang dibutuhkan dengan bantuan masyarakat sekitar. Data sekunder ini juga diperoleh dari berbagai pustaka yang dapat digunakan untuk berbagai teori yang ada untuk menganalisis fenomena-fenomena yang dikaji. 3.2. Analisis Data Pertama kalinya menentukan judul yang sesuai dengan tema yang sudah tersedia, setelah itu kami melakukan wawancara yang singkat dari beberapa responden terkait dengan judul yang telah ditetapkan. Hasil dari wawancara tersebut dihubungkan dengan literatur-literatur yang sesuai. Hal tersebut dapat dilihat dari strategi industrialisasi di Indonesia yang sudah mencoba menggunakan strategi substitusi impor (SI) dan strategi promosi ekspor (PE), akan tetapi semuanya tidak dapat dilanjutkan dan butuh strategi industrialisasi yang baru yang mampu membangun bangsa Indonesia menjadi lebih sejahtera. BAB IV PEMBAHASAN 4.1. Perkembangan Industri di Indonesia Indonesia dikategorikan sebagai negara yang baru masuk tahap awal industrialisasi. Namun demikian, prosesnya boleh dikatakan cukup pesat. Sejak tahun 1983 hingga dekade 1990-an, peran sektor-sektor primer cenderung menurun, sedangkan sektor-sektor sekunder (seperti industri manufaktur, listrik, gas dan air, serta konstruksi) dan sektor-sektor tersier (perdagangan, hotel dan restoran, transformasi dan komunikasi, bank dan keuangan), dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya terus meningkat. Perubahan struktur ekonomi yang dialami Indonesia selama pemerintahan orde baru memperlemah posisi relatif dari pertanian dan pertambangan di dalam perekonomian nasional. Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan output rata-rata per tahun di sektor-sektor sekunder, terutama industri manufaktur dan tersier, khususnya keuangan dan perbankan. Perubahan ini boleh dianggap sebagai salah satu konsekuensi penting dari proses pembangunan ekonomi jangka panjang. presentase pertumbuhan output pertanian menurun terus selama kurun waktu tersebut, tahun 1995 tercatat hanya sekitar 4,38% dan tahun 1998 akibat krisis ekonomi menurun drastis menjadi 0,22%. Namun demikian dibandingkan sektor-sektor lain, pertanian dan listrik, gas, dan air minum merupakan dua sektor yang dapat bertahan selama krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak akhir tahun 1997 hingga mencapai klimaksnya tahun 1999, dengan tetap memiliki pertumbuhan positif walaupun sangat kecil. Sumber utama yang membuat pertanian bisa tetap tumbuh adalah dari sisi permintaan agregat, khususnya ekspor yang tetap mengalami pertumbuhan positif. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang membuat harga komoditas-komoditas pertanian Indonesia dalam dolar As menjadi lebih murah. Pertambangan juga mengalami kemorosotan selama dekade 1980-an hingga masa krisis. Tahun 1995, sektor itu masih mengalami pertumbuhan 6,74 % dan tahun 1998 kontraksi 4,16%. Sektor industri manufaktur memiliki laju pertumbuhan rat-rata pertahun cukup stabil dan tinggi selama dekade 1980-an hingga krisis terjadi. Tahun 1998, sekor tersebut mengalami kemerosotan produksi yang sangat signifikan, yakni hampir 13 %. Dampak negatif dari krisis ekonomi terhadap sektor tersebut bersumber dari dua sisi sekaligus. Dari sisi permintaan agregat, turunnya kemampuan belanja masyarakat (konsumen) dan lesunya kegiatan ekonomi domestik. Semua ini membuat menurunnya total permintaan agregat yang terdiri atas final demand dari konsumen dan intermediate demand dari sektor-sektor ekonomi, di pasar domestik terhadap produk-produk manufaktur dampaknya melalui sisi penawaran agregat adalah terutama karena tinngginya suku bunga pinjaman dan terbatasnya dana kredit dari perbankan nasional, mahalnya bahan-bahan baku impor, dan akibat ditolaknya letter of credit ( L/C) dari bank-bank nasional oleh bank-bank di luar negeri. Semua ini membuat banyak perusahaan-perusahaan domestik, terutama yang sangat tergantung selama itu pada dana perbankan, terpaksa menghentikan seluruh atau sebagian dari kegiatan produksi mereka. Transformasi struktural yang dimotori oleh industrialisasi di suatu negara bukan hanya pergeseran pusat kekuatan ekonomi negara tersebut dari sektor pertanian ke sektor industri, tetapi proses ini juga mencakup pergeseran struktur industrinya dari waktu ke waktu, sehubungan dengan dimilikinya keunggulan komparatif akibat pergeseran dari kegiatan produksi yang bersifat padat karya dan berteknologi rendah kearah cabang kegiatan produksi yang lebih padat modal dan berteknologi tinggi. 4.2. Masalah-masalah yang Terjadi di Indonesia pada Sektor Industri Saat ini, di Indonesia terdapat beberapa masalah-masalah yang terjadi pada sektor industri, yaitu : 1. Kelemahan struktural dan organisasi Kelemahan-kelemahan struktural diantaranya adalah basis ekspor dan pasarnya yang sempit, walaupun Indonesia memiliki banyak sumber daya alam (SDA) dan jumlah tenaga kerja yang berlimpah, yang merupakan dua faktor utama keunggulan komparatifnya, namun produk dan pasar ekspor Indonesia sangat terkonsentrasi pada empat produk (kayu lapis, pakaian jadi, tekstil dan alas kaki). Selain dari itu juga kelemahan lainnya yaitu ketergantunga pada impor yang sangat tinggi, tidak adanya industri yang berteknologi menengah, dan konsentrasi regional. Kelemahan-kelemahan organisasi diantaranya adalah industri skala kecil dan menengah (IKM) masih underdeveloped, dimana kontribusi IKM terhadap pembentukan nilai tambah manufaktur relatif kecil, sedangkan terhadap kesempatan kerja sangat besar. Hal ini mencerminkan rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja di IKM dibandingkan di industri skala besar (IB). kelemhan lainnya yaitu konsentrasi pasar tinggi yang dapat dijumpai pada banyak segmen/subsektor manufaktur, lemahnya kapasitas untuk menyerap dan mengembangkan teknologi, dan dan lemahnya SDM dengan fakta yang menunjukkan bahwa hingga kini sebagian besar tenaga kerja di Indonesia masih berpendidikan rendah. 2. Masalah-masalah yang dihadapi industri kecil dan industri rumah tangga Seperti di banyak NSB lainnya, sektor industri manufaktur di Indonesia didominasi oleh industri kecil (IK) dalam industri rumah tangga (IRT), baik dalam jumlah unit maupun pangsa kesempatan kerja. Dalam pangsa nilai tambah, kontribusi IK dan IRT jauh lebih kecil dibandingkan kontribusi industri menengah dan besar (IMB). Jumlah tenaga kerja yang banyak, dengan kontribusi nilai tambah yang kecil mencerminkan rendahnya produktivitas tenaga kerja di IK dan IRT. Hal ini erat kaitannya dengan masalah-masalah yang dihadapi IK dan IRT, yang merupakan hambatan serius bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi kelompok tersebut. Kekurangan modal yang dihadapi banyak pengusaha IK dan IRT disebabkan oleh keterbatasan fasilitas-faslitas perkreditan khusus untuk usaha kecil dan rumah tangga, di satu pihak, dan keterbatasan mereka terhadap fasilitas keuangan yang disediakan oleh lembaga keuangan formal (bank) maupun nonbank (BUMN, LSM, dan lainnya). Dalam hal pemasaran, kesulitan yang dihadapi pengusaha-pengusaha IK dan IRT adalah terutama keterbatasan informasi mengenai perubahan dan peluang pasar yang ada, dana untuk membiayai pemasaran/promosi, pengetahuan mengenai bisnis dan strategi pemasaran, dan kominikasi. Dalam hal terakhir ini tidak saja kemampuan mereka untuk berkomunikasi sangat rendah, juga akses mereka ke fasilitas-fasilitas untuk berkomunikasi sangat terbatas. Keterbatasan-keterbatsan tersebut membuat banyak pengusaha-pengusaha IK dan IRT, khususnya di daerah pedesaan, menjadi sangat tergantung pada pedagang keliling dan pemilik grosir di kota-kota, khususnya bagi mereka yang ingin menjual ke pasar-pasar di luar daerah mereka, misalnya ke kota-kota di propinsi-propinsi lain dan terutama ke pasar ekspor. Sedangkan pengusaha-pengusaha IK dan IRT yang hanya melayani pasar lokal, kebanyakan mereka berhubungan langsung dengan konsumen, tanpa perantara pedagang. 4.3. Strategi-strategi Industrialisasi yang Terjadi di Indonesia Dalam melaksanakan industrialisasi, di Indonesia telah melaksanakan dan mecoba menerapkan dua strategi yakni strategi substitusi impor (SI) dan strategi promosi ekspor (PE). 1. Strategi SI Strategi substitusi impor (SI) adalah industri domestik yang membuat barang-barang menggantikan impor. Strategi SI lebih menekankan pada pengembangan industri yang berorientasi kepada pasar domestik. Strategi SI dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai dengan mengembangkan industri di dalam negeri yang memproduksikan barang-barang pengganti impor. Beberapa pertimbangan yang lazim digunakan dalam memilih strategi ini terutama adalah sebagai berikut : • Sumber daya alam dan faktor produksi cukup tersedia di dalam negeri sehingga secara teoritis, biaya produksi untuk intensitas penggunaan sumber-sumber ekonomi tersebut yang tinggi dapat menjadi rendah. • Potensi permintaan di dalam negeri yang memadai. • Untuk mendorong perkembangan sektor industri manufaktur di dalam negeri. • Dengan berkembangnya industri di dalam negeri, maka kesempatan kerja diharapkan terbuka lebih luas. • Dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, yang berarti juga mengurangi defisit saldo neraca perdagangan dan menghemat cadangan devisa. Pada awal proses industrialisasi di Indonesia (awal pemerintahan orde baru), strategi yang terapkan oleh pemerintah pada waktu itu adalah strategi SI dengan menggunakan bea atau tarif masuk yang tinggi terhadap barang-baranga impor. Sudah cukup banyak studi mengenai strategi SI di Indonesia. Salah satu diantaranya adalah dari Bank Dunia yang hasil studinya menunjukkan tiga hal penting yaitu, secara keseluruhan tingkat proteksi dari semua sektor ekonomi mengalami penurunan selama periode 1987-1992 kecuali kelompok ndustri perkayuan, tingkat proteksi efektif dari sektor industri manufaktur relatif besar, dan tingkat proteksi (nominal dan efektif) sektor industri manufaktur ternyata bervariasi menurut siubsektor, misalnya tingkat proteksi kelompok industri barang dari logam jauh lebih tinggi daripada tingkat proteksi kelompok industri logam dasar. 2. Strategi PE Strategi promosi ekspor (PE) adalah strategi yang tidak ada diskriminasi dalam pemberian insentif dan fasilitas-fasilitas kemudahan yang lainnya dari pemerintah, baik utnuk industri yang berorientasi kepada pasar domestik maupun industri yang berorientasi ke pasar ekspor. Strategi PE lebih berorientasi ke pasar internasional dalam usaha pengembangan industri di dalam negeri. Strategi PE dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa direalisasikan jika produk-produk yang dibuat di dalam negeri dijual di pasar ekspor. Beberapa syarat penting yang diberikan agar penerapan strategi tersebut membawa hasil yang baik adalah sebagai berikut : • Pasar harus menciptakan signal harga yang benar, yang sepenuhnya merefleksikan kelangkaan dari barang yang bersangkutan, baik di pasar output maupun di pasar input. • Tingkat proteksi dari impor harus rendah. • Nilai tukar mata uang harus realistik, sepenuhnya merefleksikan keterbatasan uang asing yang bersangkutan. • Lebih penting lagi, harus ada insentif. Di indonesia, menjelang pertengahan dekade 1980-an, setelah oil boom kedua (awal dekade 1980-an) berakhir, dan setelah pemerintah berakhirnya menyadari bahwa kebijakan proteksi selama itu ternyata lebih banyak merugikan daripada menguntungkan Indonesia, mulai kelihatan adanya perubahan strategi industrialisasi yang dilakukan secara bertahap dari proteksi ke promosi ekspor, khususnya ekspor nonmigas, termasuk produk-produk manufaktur. Perubahan kebijakan ini didukung oleh sejumlah paket deregulasi. Paket deregulasi pertama dilakukan pada tahun 1982 di sektor keuangan/perbankan, yang dikenal dengan sebutan Gebrakan Sumarlin I. baru pada dekade 1990-an, reformasi juga dilakukan di sektor riil, walaupun pada awal prosesnya berjalan lebih lambat dan pelaksanaannya kelihatan tidak selalu serius dibandingkan dengan reformasi yang dilakukan di sektor keuangan/perbankan. Langkah ini adalah awal dari reformasi ekonomi yang terus berjalan hingga saat ini, dan intensitasnya bertambah tinggi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, sebagai konsekuensi dari kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan IMF. Dalam strategi baru ini, pemerintah mengjilangkan sejumlah rintangan-rintangan nontarif (NTBs), khususnya pembatasan impor secara kuantitatif, dengan tujuan untuk menghilangkan anti-export bias dari strategi sebelumnya. Selain itu, pemerintah juga melakukan konversi dari kuota ke proteksi dengan tarif, penurunan tarif proteksi secara bertahap, dan memperkenalkan skim pembebasan dan pengembalian pajak bagi perusahaan-perusahaan eksportir yang mengekspor paling sedikit 85% dari jumlah output-nya. Namun hal-hal itu telah gagal untuk dilanjutkan di Indonesia . 4.4. Strategi Industrialisasi yang Tepat untuk Indonesia Dapat dikatakan bahwa proses industrialisasi di Indonesia mulai dilaksanakan pada awal dekade 1970-an, hal tersebut dilaksanakan terutama untuk memperbaiki perekonomian dan memperbaiki pembangunan sehingga akan terkait dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Namun semua industrialisasi yang dilakukan dari mulai memakai startegi substitusi impor (SI) sampai pada strategi promosi ekspor (PE) mengalami kegagalan, sehingga diperlukan adanya strategi industrialisasi yang tepat untuk Indonesia. Terdapat tiga tujuan penting dari industrialisasi yang harus dicapai, yaitu : 1. Menciptakan atau meningkatkan nilai tambah ekonomi, yakni nilai tambah dari semua sektor yang ada, termasuk idustri, pertanian, dan pertambangan. 2. Meningkatkan efisiensi ekonomi. 3. Mengurangi ketergantungan pada impor. Dalam memilih alternatif strategi industrialisasi yang tepat untuk diterapkan di Indonesia untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, ada sejumlah aspek yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut : 1) Melihat kenyataan bahwa ada dua sektor ekonomi yang besar dimana Indonesia memiliki keunggulan komparatif atas sektor-sektor tersebut, yaitu pertanian dan pertambangan, maka dalam proses industrialisasi harus dibangun/dikembangkan keterkaitan produksi ke depan dan ke belakang antara kedua sektor primer tersebut dengan sektor industri manufaktur. Industrialisasi atau pembangunan sektor industri manufaktur di Indonesia harus dilandaskan pada sektor pertanian dan sektor pertambangan yang kuat, sesuai paradigma mengenai spesialisasi yang didasarkan pada keunggulan kompetitif yang dapat dikembangkan. Oleh sebab itu, dalam proses indistrialisasi, perlu diberikan perhatian yang besar terhadap peningkatan kinerja kedua sektor primer tersebut, dalam arti peningkatan efisiensi, produktivitas, dan tingkat daya saing globalnya. 2) Selain dengan dua sektor primer, juga harus dibangun/dikembangkan keterkaitan produksi antara sektor industri manufaktur dengan sektor-sektor sekunder lainnya dan sektor-sektor tersier. Disamping itu juga harus dibangun/dikembangkan keterkaitan produksi di dalam sektor industri manufaktur antarsubsektor/kelompok industri dan antarunit produksi dari skala yang berbeda di dalam setiap kelompok industri, misalnya subcontracting antara industri skala kecil dengan industri skala menengah dan/atau industri skala besar. 3) Strategi yang tepat bagi Indonesia adalah yang memfokuskan pada perkembangan kelompok-kelompok industri berikut ini a). industri-industri yang memakai komoditas-komoditas pertanian dan pertambangan sebagai bahan baku utama, b). industri-industri mesin, alat-alat produksi, komponen, spare part, dan material lain, c). industri-industri yang outward looking-oriented. 4) Pengembangan sektor industri manufaktur harus berdasarkan spesialisasi berdasarkan faktor-faktor keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia dan faktor-faktor keunggulan kompetitif yang dapat dikembangkan; tidak lagi industrialisasi berspektrum luas seperti pada zaman pemerintahan orde baru. 5) Industrialisasi harus memberi dampak positif terhadap saldo neraca pembayaran, khususnya saldo neraca perdagangan, tidak hanya dengan cara meningkatkan ekspor barang-barang dengan nilai tambah (manufaktur), tetapi juga dengan cara mengurangi impor. Pembangunan industri-industri sesuai dengan butir 3b dan 3c di atas dengan meningkatkan ekspor dan sekaligus mengurangi impor. 6) Industrialisasi harus mendukung potensi daerah, yang sekaligus mendukung pelaksanaan otonomi daerah, industrialisasi tidak boleh lagi terpusatkan hanya di Jawa, tetapi harus menyebar ke wilayah-wilayah di luar Jawa. Akan tetapi, penyebab tersebut harus tetap memegang pada prinsip “optimal location”; penempatan suatu industri di suatu lokasi yang strategis dengan total biaya paling minimum, yang mencakup biaya-biaya transportasi, informasi, pengadaan bahan baku, produksi, dan distribusi, 7) Strategi industrialisasi yang tepat adalah yang bisa meningkatkan kemampuan perusahaan-perusahaan lokal/nasional dalam berproduksi, mengembangkan teknologi dan produk dengan merek sendiri, serta membangun jaringan distribusi global sehingga dapat mengurangi ketergantungan pembangunan industri nasional terhadap investasi asing (PMA). 8) Industrialisasi harus menciptakan atau mempercepat proses pendalaman struktur industri (diverifikasi). Hal ini hanya bisa dicapai dengan pembangunan berbagai macam industri (lihat butir 3a dan 3b di atas). 9) Pola industrialisasi juga harus berorientasi pada peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat, tentu tanpa mengurangi tingkat efisiensi dan produktivitas. Artinya, perkembangan sektor industri manufaktur harus menciptakan kesempatan kerja, tetapi tidak semata-mata hanya berlandaskan pada prinsip full employment, melainkan productive employment, yakni menciptakan kesempatan kerja sebanyak mungkin, tetapi produktif. Ini tidak berarti semua industri harus padat karya, tetapi harus ada pemilihan industri menurut intensitas pemakaian tenaga kerja dan modal. Ada jenis-jenis industri yang memang tidak bisa dilakukan dengan metode produksi yang padat karya, dan ini tidak harus berarti dampaknya sangat kecil terhadap kesempatan kerja. Melalui total keterkaitan produksi (keterkaitan langsung plus tidak langsung) ke depan dan ke belakang dari industri yang padat modal tersebut dengan industri-industri lain yang padat karya akan menciptakan total employment effect yang besar. Selain meningkatkan kesempatan kerja, demi tujuan pemerataan, lokasi pembangunan industri juga harus diusahakan menyebar keseluruh pelosok tanah air. 10) Jenis-jenis insentif yang akan diberikan oleh pemerintah dengan maksud untuk mendukung proses industrialisasi harus yang bisa dibuktikan memiliki social cost effectiveness-nya yang tinggi, artinya social benefit lebih besar daripada socil cost-nya. Selain itu, kebijakan ini harus transparan, bersifat sementara, dan dalam pelaksanaannya harus konsisten dengan ketepatan pemerintah yang ada. Dari uraian di atas, jelas bahwa untuk dapat melaksanakan pola industrialisasi yang tepat di Indonesia dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut, diperlukan sarana dan prasarana, terutama penyediaan SDM (termasuk wiraswasta, manajer, tenaga ahli, tenaga terampil, dan tenaga terdidik) dengan kualitas tinggi sesuai dengan kebutuhan saat ini dan yang akan dating; teknologi yang tepat guna, dan infrastruktur fisik dan nonfisik (termasuk kelembagaan). BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa salah satu solusi untuk pembangunan di Indonesia yang paling berpengaruh yaitu dari aspek industrialisasi. Dengan semakin majunya perkembangan zaman ke arah modern membuat suatu negara mampu mengendalikan diri terutama dibidang industrialisasi, sehingga dibutuhkan strategi industrialisasi untuk membangun masyarakat yang sejahtera. Di indonrsia tersendiri sudah melakukan strategi industrialisasi dengan mennggunakan strategi substitusi impor (SI) dan strategi promosi ekspor (PE), namun semuanya kurang berhasil dan sulit untuk dilanjutkan, oleh karena itu dibutuhkan strategi-strategi industrialisasi yang tepat untuk Indonesia. 5.2. Saran Makalah ini sebagian besar terfokus pada literatur, yakni buku-buku dan artikel yang dijadikan sebagai sumber pembuatannya, sedikit pengamatan langsung di lapangan berupa wawancara yang kurang mendalam yang dijadikan penambahan literatur, sehingga masih kurang aktual dan dibutuhkan penelitian langsung dilapangan secara lebih mendalam dan intensif. Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari literatur-literatur dan wawancara dapat diketahui bahwa untuk di Indonesia tersendiri dibutuhkan strategi-strategi industrialisasi yang sesuai yang mampu membangun Indonesia menjadi sejahtera. Bagi peneliti yang sama harus mempunyai banyak literatur, karena setiap literatur pasti terdapat perbedaan dan perbedaan itu yang dibuktikan melalui penelitian dilapangan yang lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA Tambunan, T.H. Tulus.2001.Industrialisasi di Negara Sedang Berkembang “Kasus Indonesia”.Jakarta:Ghalia Indonesia. Pangestu, M.Raymond.1996.Industrialisasi, Keunggulan Bersaing, dan Era Perdagangan Bebas.Jakarta:CSIS. Todaro, Michael P.2006.Ekonomi Pembangunan.Jakarta:Erlangga.
June 19th, 2010 | Author:
opangs08
Posted in
Academic
|
No Comments »
PERANAN RADIO DENGAN MUNCULNYA TELEVISI SEBAGAI MEDIA SAINGANNYA DI ZAMAN MODERN Disusun Oleh : Opang Sunandang (I34080089) Asisten : Mahmudi Siwi DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN Radio merupakan media siaran yang paling awal digunakan sebagai penyebar informasi yang dapat mencapai pendengar dalam jumlah besar dengan lebih cepat. Terdapat fungsi radio yang tidak bisa digantikan oleh televisi, sehingga masih digemari oleh masyarakat. Masyarakat dapat mendengarkan sambil mengemudi dan lainnya, berbeda dengan televisi yang harus rnenggunakan mata dan telinga. Radio memiliki fungsi yang sama dengan televisi yakni suatu alat untuk menyampaikan berbagai hal kepada masyarakat. Dengan munculnya telepon selular, peran radio semakin nyata, dimana masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan penyiar radio. Kekerabatan dan interaksi sosial dahulu dibangun lewat masyarakat, sekarang sudah melalui udara. Para pengendara secara sukarela melaporkan kejadian seperti kemacetan yang merupakan berita penting bagi sebagian besar pengemudi lain. Di zaman Modern, daerah pedesaan terbagi menjadi tiga macam kelompok yang telah dikembangkan untuk mengorganisasi pendengar-pendengar radio, yaitu:kelompok untuk membuat keputusan, kelompok belajar, dan kelompok diskusi. Dengan perkembangan zaman sampai Modern, radio di Indonesia sekarang sudah mempunyai banyak fungsi diantaranya sebagai propaganda, media komunikasi, media pendidikan dan perkembangan kebudayaan, penyalur pendapat mayarakat, media hiburan, dari fungsi tersebut yang banyak digunakan yaitu sebagai media pendidikan dan media hiburan.Sekarang televisi sudah menjadi medium untuk menyampaikan berbagai hal kepada masyarakat seperti sosial, politik, dan lainnya. Televisi di Indonesia telah menciptakan budaya hiburan malalui layar kaca misalnya musik, sehingga masyarakat tertarik dengan adanya siaran televisi. Dengan munculnya media siaran televisi, masyarakat menjadi lebih tertarik, apalagi sekarang banyaknya acara program televisi. Selain dari pada itu, radio juga memiliki karakteristik yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia, apalagi dengan munculnya telepon selular yang membuat masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan penyiar radio, dan itu membuat peranan radio menjadi semakin kuat di zaman Modern. ABSTRACT In a row with development period to direction Modern, it all following develop including electronic tools which to use. With to appear television broadcast media in Modern period, it can influence Indonesian society in total that wide, because the programs jurisdiction much, variation and interest. So again case with radio broadcast media in Modern period, which can influence Indonesian society that large, because with it much function to radio particularly as entertainment media and education media, more over with it turn up celuller telephone which to make community can direct interaction with all announcer. Secondly it broadcast media (radio and television) own to play and importanat part and bigger in Indonesian, superior role television and now community already can see to programmes television in overseas. Nevertheless, with part television that the more powerfull, it cannot influence role radio in period Modern. ABSTRAK Seiring dengan perkembangan zaman ke arah Modern, semuanya mengikuti perkembangan tersebut termasuk alat-alat elektronik yang digunakan. Dengan munculnya media siaran televisi di zaman Modern, dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam jumlah yang luas, karena program-program acara yang lebih banyak, bervariasi dan menarik. Begitu pula halnya dengan media siaran radio di zaman Modern yang dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam jumlah yang luas dengan banyaknya fungsi, terutama sebagai hiburan dan pendidikan, apalagi dengan munculnya telepon selular yang membuat masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan para penyiar radio. Kedua media siaran tersebut (radio dan televisi) mempunyai peranan yang sangat penting dan terbesar di Indonesia, terutama peranan televisi yang sekarang masyarakat Indonesia sudah dapat melihat acara-acara luar negeri. Akan tetapi dengan peranan televisi yang semakin kuat, tidak dapat mempengaruhi peranan radio di zaman Modern. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Media berasal dari bahasa latin “Medius” yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Media terdiri dari berbagai jenis, yakni media elektronik dan media cetak, yang termasuk media elektronik diantaranya media siaran radio dan televisi. Media radio identik dengan pendengaran, informasi atau pesan yang disampaikan dituangkan kedalam lambang suara. Karena penyampaian informasinya melalui radio, sehingga media ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap perasaan pendengarannya. Disini pendengaran seolah-olah ikut terlibat dalam dialog atau program yang sudah dikemas untuk menyampaikan materi atau informasi. Radio merupakan media yang dinamis dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Hal ini selaras dengan fungsi radio sebagai media hiburan dan informasi, informasi sewaktu-waktu selalu berubah setiap hari bahkan bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Pentingnya peran radio, mengingatkan pada kondisi di tahun 1920-an, ketika tiap malam jutaan keluarga diseluruh belahan dunia yang mempunyai radio, berpusat disekitar pesawat itu untuk mendengarkan berbagai hiburan radio. Tak hanya sebagai penyedia hiburan, sesungguhnya radio mempunyai peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, menyelamatkan korban dalam kecelakaan. Di Indonesia pun memiliki peran penting dalam sejarah Kemerdekaan. Inovasi radio pada zaman Kemerdekaan dianggap paling penting dan paling cepat berkembang di dalam masyarakat, karena pada saat itu hanya radio yang dapat dijadikan sebagai komunikasi yang dapat menyebarkan informasi ke khalayak dalam jarak yang cukup jauh. Akan tetapi, dari generasi ke generasi sejalan dengan perubahan zaman hingga sampai pada zaman Modern, keberadaan siaran radio sepertinya tidak lagi banyak digunakan masyarakat seperti halnya pada zaman sebelumnya. Hal ini disebabkan dengan adanya inovasi-inovasi baru, salah satu yang menjadi media saingannya yaitu siaran televisi. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarakan pemikiran diatas, kajian ini berupaya untuk mempelajari permasalahan yang muncul dari peranan media siaran radio di zaman modern dengan munculnya pesaing-pesaing baru seperti televisi. Secara khusus hal-hal yang akan dikaji : 1) Bagaimanakah peranan media siaran radio di zaman Modern ? 2) Bagaimanakah peranan media siaran lainnya (Televisi) di zaman Modern ? 3) Seberapa besarkah media siaran televisi dapat mempengaruhi keberadaan media siaran radio di zaman modern ? dan apakah media siaran radio semakin rendah dalam hal yang digunakan oleh masyarakat dengan munculnya media siaran televisi ? 1.3. Tujuan dan Manfaat Tujuan Berdasarkan perumusan masalah tersebut, kajian ini berupaya untuk menjelaskan beberapa permasalah yang muncul dari peranan media siaran radio di zaman modern. Hal-hal yang akan dikaji : 1) Mengetahui peranan media siaran radio di zaman Modern. 2) Mengetahui peranan media siaran lainnya (Televisi) di zaman Modern. 3) Mengetahui besarnya pengaruh media siaran televisi pada siaran radio di zaman Modern. Manfaat Melalui kajian ini, terdapat juga beberapa hal yang ingin disumbangkan kepada berbagai pihak, yaitu : 1) Dapat menjadi referensi bagi kajian yang akan melakukan pengamatan sejenis. 2) Memberikan informasi dan pemahaman kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan terlibat dalam peranan media siaran radio pada perubahan zaman. 3) Menambah khasanah pengetahuan tentang kajian media siaran radio di zaman Modern. BAB II PEMBAHASAN 2.1. Peranan Media Siaran Radio di Zaman Modern Sebagaimana diketahui, radio merupakan media siaran yang paling awal digunakan sebagai media penyebar informasi. Radio dapat mencapai pendengar dalam jumlah besar dengan lebih cepat dan lebih murah dibandingkan sarana komuniksai lainnya (televisi). Peran radio tidak bisa digantikan atau hilang dengan kehadiran televisi. Peran radio semakin penting pada masyarakat Modern Indonesia terutama bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Ada fungsi radio yang tidak bisa digantikan oleh televisi, sehingga radio masih digemari oleh masyarakat. Masyarakat dapat mendengarkan radio sambil bekerja, mengemudi, dan melakukan kegiatan lainnya. Berbeda dengan televisi, masyarakat harus menggunakan mata dan telinga untuk bisa menikmati televisi, sesuatu hal yang sulit dilakukan jika seseorang sedang bekerja atau mengemudi (Ujang,2002:186). Radio memiliki fungsi yang sama dengan televisi. Ia merupakan medium untuk menyampaikan berbagai hal kepada masyarakat termasuk medium untuk beriklan. Sejak penggunaan telepon selular semakin banyak, radio telah menciptakan budaya populer yang baru dan belum pernah ada pada era Tahun 1980-an, yaitu budaya interaktif antara pendengar radio dan penyiar radio, atau reporter radio dan penyiar radio. Radio bisa menyiarkan langsung kejadian-kejadian penting di masyarakat melalui telepon selular, pendengar tidak perlu menunggu jam berita untuk bisa mendengarkan berita yang paling baru. Acara interaktif pun telah memiliki fungsi sosial yang sangat penting. Kekerabatan dan interaksi sosial dahulu dibangun lewat masyarakat yang tinggal saling berdekatan. Sekarang interaksi sosial tersebut dibangun melalui udara. Para pengendara dengan sukarela menelpon stasiun radio favoritnya untuk memberitahu berbagai hal:kemacetan, kecelakaan, tindakan Kriminal, demonstrasi, bahkan masalah pribadi yang dialaminya. Laporan para pengendara yang secara sukarela telah mnejadi reporter tersebut merupakan berita yang sangat penting bagi sebagian besar pengemudi lain. Mereka dapat menghindari jalan-jalan yang sedang macet, memberitahu petugas untuk meminta pertolongan, menghindari tindakan kriminal. Mereka bisa saling melakukan transaksi barang dan jasa yang dibutuhkannya. Iklan pun telah mewarnai hampir semua program radio pada semua stasiun radio. Di daerah pedesaan sekarang, telah terbagi tiga macam kelompok yang telah dikembangkan untuk mengorganisasikan pendengar-pendengar radio, yaitu : (1) Kelompok untuk membuat keputusan, (2) Kelompok belajar, (3) Kelompok diskusi. Dari ketiga kelompok tersebut mempunyai presentasi tersendiri berdasarkan minat masyarakat pedesaan. Tabel 1.1. Presentasi minat masyarakat pedesaan terhadap kelompok Kelompok Presentasi Kelompok pembuat keputusan 40% Kelompok belajar 50% Kelompok diskusi 30% Jumlah 100% Dari tabel 1, dijelaskan bahwa masyarakat pedesaan lebih menaruh minat pada kelompok belajar, karena dalam kenyataannya masyarakat pedesaan selalu ingin mendapatkan pelajaran-pelajaran tertentu dari radio. Siaran radio membantu kesadaran para masyarakat pedesaan untuk mengetahui informasi.1 Sedangkan untuk presentasi yang terendah barasal dari kelompok diskusi, hal ini berkaitan dengan anggota masyarakat yang malas untuk bertukar pikiran. Sedangkan untuk pertengahan yaitu kelompok pambuat keputusan. Akan tetapi tujuan dibentuknya kelompok-kelompk tersebut yaitu untuk menumbuhkan aksi sosial. Dengan perkembangan zaman sampai pada zaman Modern, radio di Indonesia sekarang sudah mempunyai banyak fungsi, diantaranya : 1. sebagai propaganda 1 Ujang Sumarwan,Perilaku Konsumen (Bogor:Ghalia Indonesia,2002),hal 100 2. sebagai media komunikasi 3. sebagai media pendidikan dan pengembangan kebudayaan 4. sebagai penyalur pendapat masyarakat 5. sebagi media hiburan Dari fungsi tersebut, yang banyak digunakan di dalam masyarakat Indonesia sekarang yakni sebagai media pendidikan dan sebagai media hiburan. • Radio sebagai media pendidikan Di era sekarang banyak orang berbicara tentang multimedia, banyak pendidik yang berbodong-bondong menerapkan media tersebut dalam proses belajar mengajar di kelas. Radio melalui siarannya dapat menyampaikan pengajaran secara efektif, dapat menambah pengalaman pengetahuan serta dapat menimbulkan motivasi belajar siswa. Bentuk siarannya dapat berupa ceramah, cerita, wawancara, sandiwara, dan sebagainya. Melalui radio, seseorang dapat menangkap dan mengerti berbagai suara manusia serta bunyi lain yang ada hubungannya dengan masalah pembelajaran. Terkadang di kelas terjadi keributan yang ditimbulkan oleh suara kendaraan di jalan atau ceramah guru yang semakin jenuh, tetapi dengan materi yang dikemas sedemikian rupa menjadi program audio dapat mengatasi kejenuhan siswa dalam mendengarkan dan memperhatikan materi yang disampaikan, karena dalam menyusun atau mengemas materi pembelajaran ke dalam bentuk audio terlebih dahulu perancang pembelajaran telah mengadakan identifikasi dan mengamati karakteristik siswa, sehingga pada penerapannya menjadikan siswa mudah dan asyik dalam proses belajar mengajar. Selain dari itu juga, radio merupakan salah satu sumber bahan ajar yang ekonomis, menyenangkan dan mudah disiapkan. Dapat berfungsi sebagai media pembelajaran untuk belajar mandiri. Dengan kemasan materi yang menarik akan merangsang daya imajinasi anak, sehingga mereka akan terlihat aktif dan merangsang kreatifitas anak. • Radio sebagai media hiburan Semakin berubahnya zaman, penggunaan radio sekarang banyak digunakan sebagai media hiburan. Hal ini sejalan dengan perkembangan musik di Indonesia, dimana sekarang musik telah menjadi ciri dari kehidupan sejak lama, dan semakin nyata kehadirannya pada masyarakat modern. Musik sangat terkait dengan media yang salah satunya radio. Menurut Raden Ahnaf Faqih, program siaran radio dominan dengan hiburan, karena seringkali radio dijadikan alat yang dapat digunakan untuk menedengar pada saat istirahat, sehingga program radio menjadi berubah.2 2.2. Peranan Media Siaran Lainnya (Televisi) di Zaman Modern Televisi telah menjadi medium yang banyak menciptakan budaya populer. Televisi adalah medium yang banyak digunakan masyarakat, karena jangkauannya yang luas dan kemampuan audio dan visualnya dalam menyampaikan iklan. Sekarang televisi telah menjadi medium untuk meyampaikan banyak hal kepada masyarakat seperti sosial, politik, hiburan, olah raga, beragam berita, dan iklan komersial. Televisi di Indonesia telah menciptakan budaya hiburan melalui layar kaca. seperti telenovela, sinetron, kuis, musik, film, ruang konsultasi keluarga dan kesehatan, mimbar agama dan kerohanian, acara-acara berita dan debat, dan yang lainnya. hal-hal tersebut yang dapat menarik perhatian masyarakat, sehingga masyarakat lebih tertarik dengan adanya media siaran televisi, karena dianggap media yang komplit yakni dengan audio dan visualnya. pesan-pesan visual yang disampaikan televisi dapat berupa gambar diam ataupun gambar hidup. Pada terakhir ini, bila disajikan secara kreatif dalam tata warna yang tepat dan diiringi oleh pesan pendengaran yang sesuai. Oleh karena itu, televisi berhasil memikat lebih banyak khalayak daripada media lainnya. “Televisi memiliki beberapa kesamaan dengan radio dalam hal dapat : (1) mencapai khalayak dalam jumlah besar yang dapat mengambil manfaat sekalipun mereka tidak bisa membaca, (2) dipakai untuk mengajarkan banyak subjek dengan baik, dan (3) bersifat otokratif dan bersahabat.” (Jankins dalam S Sugiah M,2006). 2 Raden Ahnaf Faqih,Sejarah ditemukannya radio (Jakarta:Rosdakarya,2005),hal 10 Selama Orde Baru, kehadiran televisi di Indonesia juga memiliki kontribusi bagi pengembangan kelompen (kelompok pendengar) menjadi kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa televisi). Namun demikian, peranannya juga menrurun semenjak meningkatnya media televisi serta dominannya persepsi pemirsa dalam memandang televisi sebagai sumber hiburan. “Media televisi dapat merubah perilaku khalayak atau dengan kata lain menjalankan peranan pendidikan. Televisi telah digunakan secara efektif untuk mengajarkan hampir segala macam subjek, baik yang teoritis maupun praktis, seperti Matematika, IPA, Bahasa, Pertanian, Mengetik, Menjahit, memperbaiki mobil, dan sebagainya. Televisi juga telah digunakan untuk mendidik orang dari hampir seluruh kelompok umur dan seorang guru yang terlatih ataupun tidak, dengan hasil yang mengesankan.” (Schramm dalam S Sugiah M,2006). 2.3. Pengaruh peranan televisi terhadap peranan radio di zaman modern Media komunikasi adalah suatu media ataupun alat bantu yang digunakan oleh suatu organisasi atau pun masyarakat untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja dalam berbagai hal dengan hasil yang maksimal, salah satu alat komunikasi tersebut yaitu media siaran televisi. Dengan munculnya media siaran televisi, membuat masyarakat Indonesia menjadi penasaran dan ingin mengetahui kegunaan dari televisi tersebut, hingga sampai sekarang televisi menjadi bagian dari hidup mereka. Hampir seluruh penduduk masyarakat Indonesia termasuk masyarakat yang berada di pedesaan memiliki televisi. Tidak sedikit dari mereka menghabiskan hari-harinya dengan menonton televisi, bahkan banyak masyarakat yang malas bekerja, karena dari acara televisi yang menarik. Sampai sekarang ini peranan televisi semakin kuat di kehidupan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan perkembangan dari televisi. Semakin menuju ke arah Modern, televisi mengalami perubahan salah satunya yakni sekarang ini masyarakat Indonesia sudah bisa melihat program-program acara di dalam negeri maupun di luar negeri. Sehingga dengan hal tersebut menambah menarik minat masyarakat. Di Indonesia juga banyak perubahan, terutama dari program acara yang disajikan dari televisi seperti acara musik yang banyak digemari oleh anak-anak remaja, acara olahraga termasuk sepak bola yang banyak digemari oleh laki-laki, acara sinetron yang banyak digemari oleh perempuan, pendidikan dan berita yang banyak digemari oleh kaum intelektual. program-program acara teresbut yang membuat televisi dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia yang pada awalnya menyukai media lain. Selain dari peran televisi, radio juga mempunyai peran penting di zaman Modern ini. Radio memiliki karakteristik yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia, karena memberikan banyak kontribusi yang besar bagi perkembangan komunikasi massa. Karakteristik radio memberikan manfaat yang unik yakni menarik imajinasi, cepat (radio merupakan alat informasi yang efisien dan tanpa banding), mudah dibawa, tidak memerlukan kemampuan membaca atau menulis bagi pendengar, tidak memerlukan konsentrasi yang penuh dari pendengar, cukup murah, mudah digunakan dalam pengoperasiannya, memberikan berita yang ter up-to-date. Dalam hal ini penyiar dapat merencanakan konsep implementasi untuk menghasilkan produksi siaran yang lebih efektif dan efisien. Hal tersebut yang membuat peran radio sekarang tetap kokoh seperti dahulu, apalagi sekarang semenjak munculnya telepon selular yang membuat peranan radio tetap ada, karena dengan telepon selular tentunya para pendengar dapat beinteraksi langsung dengan penyiar radio. Media radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media yang lainnya, yaitu : 1. Harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak dari pada televisi, 2. Sifatnya mudah dipindahakan (mobile). Radio dapat dipindah-pindahakan dari suatu ruang ke ruang lain dengan mudah, 3. Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal, 4. Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak, 5. Dapat merangsang partisipasi aktif dari pendengar, 6. Radio dapat memusatkan perhatian orang pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya, 7. Siaran lewat suara terbukti amat tepat dan cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa, 8. Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik, 9. Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, jangkauannya luas.3 3 Sadiman dkk,media pendidikan (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,1986),hal 51-53. KESIMPULAN Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa radio dan televisi adalah media siaran komunikasi yang dapat mempengaruhi masyarakat yang luas di zaman Modern sekarang. Peranan radio di zaman Modern diperluas dengan beberapa fungsi diantaranya yang banyak digunakan dalam masyarakat Indonesia yaitu sebagai media pendidikan dan sebagai media hiburan baik di masyarakat kota maupun di masyarakat desa. Begitu pula halnya dengan peranan televisi yang semakin meningkat, apalagi dengan banyaknya inovasi-inovasi baru seperti gambar yang bergerak, musik yang mampu merubah program-program acara televisi yakni olahraga, film, dan yang lainnya, sehingga dapat menarik masyarakat luas. Akan tetapi, dengan munculnya televisi sebagai media yang komplit, tidak dapat mempengaruhi peranan radio di zaman modern, apalagi dengan munculnya telepon selular yang membuat masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan para penyiar radio, dan tentunya akan bisa memperkuat peranan radio di zaman modern. SARAN Makalah ini hanya terfokus pada literatur, yakni buku-buku dan artikel yang dijadikan sebagai sumber pembuatannya, sedikit pengalaman dan pengetahuan sendiri yang dijadikan penambahan literatur, sehingga masih kurang aktual dan dibutuhkan penelitian langsung dilapangan. Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh, diharapkan radio dan televisi saling melengkapi dan dapat dijadikan media yang dapat memotivasi positif pada masyarakat sekitar. Bagi peneliti yang sama harus mempunyai banyak literatur, karena setiap literatur pasti terdapat perbedaan dan perbedaan itu yang dibuktikan melalui penelitian dilapangan. DAFTAR PUSTAKA Faqih Raden Ahnaf.2006.Sejarah Ditemukannya Radio.Jakarta:Rosdakarya. Jahi Amri.1998.Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara Dunia Ketiga.Jakarta:PT.Gramedia. Mugniesyah Siti Sugiah.2006.Ilmu Penyuluhan.Bogor:IPB. Sadiman, Arifin.1986.Media Pendidikan.Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada. Sumarwan Ujang.2002.Perilaku Konsumen.Bogor:Ghalia Indonesia. Yuhana Ida, Ninuk Purnaningsih, Siti Sugiah Mugniesyah.2006.Dasar-Dasar Komunikasi.Bogor:IPB. http://www.pppgkes.com (20 Desember 2009). http://www.suaramerdeka.com (20 Desember 2009).
June 19th, 2010 | Author:
opangs08
Posted in
Academic
|
No Comments »
Log in
Copyright © 2012 opangs08's blog. All Rights Reserved.
Blogging by WordPress - Theme Created by
green wordpress templates
in partnership with
used macs